Jumat, 01 Mei 2015

Orang Kudus 1 Mei: St. Yeremia

SANTO YEREMIA, NABI
Yeremia lahir kira-kira pada tahun 650 SM di Anathoth, dekat kota Yerusalem, termasuk wilayah kerajaan Yehuda. Keluarganya adalah sebuah keluarga imam yang saleh. Panggilannya sebagai nabi di Israel diterimanya dari Allah pada tahun 627, dalam tahun ketigabelas pemerintahan Raja Yosias (Yer 1: 2). Meskipun panggilan ini terjadi pada usia mudanya, namun sebenarnya Yeremia telah ditentukan Allah menjadi nabi ketika ia masih ada di dalam rahim ibunya (Yer 1: 5) untuk mewartakan sabda Allah kepada Israel, umat pilihan Allah. Tatkala Allah memanggilnya untuk mengemban tugas mulia ini, ia menolak karena merasa tidak layak untuk mengembannya. Tetapi akhirnya ia menerima panggilan itu karena Allah berjanji akan selalu menyertai dia dalam tugasnya. Yeremia adalah nabi Israel terakhir sebelum pembuangan ke Babylonia.
Karya perutusannya sebagai nabi dimulainya pada usia mudanya (Yer 1: 6) sampai pada saat kejatuhan Yerusalem di tangan bangsa Babylonia pada tahun 587. Selama 40 tahun karyanya, Yeremia tanpa mengenal lelah memperingatkan para penguasa bangsa dan pemimpin agama serta seluruh umat Israel akan bahaya kejatuhan mereka karena dosa-dosa Yerusalem dan Yehuda.
Selain itu, Yeremia terus menerus terlibat di dalam beberapa perselisihan dan pertentangan. Ia dengan gigih melawan Raja Yoakim dan Yoakin (609 – 507 SM) yang memutarbalikkan kebijakan keagamaan dari Raja Yosia. Pada masa pemerintahan Raja Sedekia (597 – 587 SM), nada pewartaannya mulai berubah. Ia tidak lagi mengeluh tentang tugas perutusannya tetapi mulai lebih sungguh-sungguh membaktikan dirinya pada tugas yang dibebankan Allah padanya. Dengan gigih ia berusaha meyakinkan Yehuda akan penguasaan bangsa Babylonia. Meskipun demikian ia tidak diterima, bahkan dituduh sebagai pengkhianat bangsanya oleh orang-orang yang menginginkan raja Sedekia bersekutu dengan Mesir dan memberontak (Yer 37: 17 – 21). Karena itu, Yeremia mengalami penderitaan batin dan frustasi yang hebat.
Walaupun ia menderita, ia tetap pasrah dan taat pada kehendak Allah. Cintanya akan Allah dan keakraban hubungannya dengan Allah ini mendorong dia untuk mendalami lebih jauh teologi tradisional Israel tentang Perjanjian. Imannya itu berdasar pada pengetahuan yang mendalam akan Perjanjian Cinta Allah dengan Israel, umat pilihan-Nya, yang memperkenankan Israel mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Dalam Perjanjian Cinta itu Allah menuntut dari Israel ketaatan penuh pada kehendak-Nya sebagaimana diwahyukan di dalam perintah-perintah-Nya dan dinyatakan melalui nabi-nabi-Nya. Menolak mengakui kebaikan dan cinta Allah yang diwahyukan adalah dosa. Dan dosa bagi Israel adalah perbuatan melawan kesucian perkawinan antara Allah dan bangsa Israel (Yer 2: 20 – 25). Dosa mengakibatkan pengadilan Allah atas Israel untuk memurnikan mereka. Yeremia menyadari bahwa pengadilan Allah merupakan tahap awal pengampunan dan pembaharuan batin yang radikal.
Dalam pewartaannya tentang malapetaka yang akan terjadi atas Israel, Yeremia menubuatkan suatu “Sisa Kecil”, suatu kelompok kecil umat yang tetap setia pada Allah (Yer 23: 3, 4; 30: 10; 11; 31: 10 – 14). Sisa Kecil ini adalah benih harapan di masa yang akan datang, kepadanya Allah mencurahkan pengampunan dan belaskasihan-Nya, dan dengannya Allah mengadakan suatu perjanjian baru (Yer 31: 31 – 34). Allah akan menciptakan bagi Israel suatu hubungan spiritual yang baru dan mendalam, dan akan menuliskan hukum-Nya di dalam hati mereka serta tinggal di dalam hati mereka.
Yeremia dengan tekun membantu perkembangan Sisa Kecil Israel yang saleh dari suku Yehuda ini karena mereka dengan sabar menantikan tibanya hari Tuhan yang menyelamatkan. Penderitaan Yeremia yang demikian hebat menjadikan dia sebagai tokoh lambang bagi Yesus Kristus. Yeremia, yang hidup penuh penderitaan, namun tetap berserah dan taat pada kehendak Allah yang menguduskan, menjadi lambang gambaran Hamba Yahwe yang menderita sebagaimana diramalkan Yesaya (Yes 35).
sumber: Iman Katolik
Baca juga riwayat orang kudus 1 Mei:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar